SISTIM PENETAPAN HARGA

SISTIM PENETAPAN HARGA secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu

  1. Sistim KonsinyasiPenjualan konsinyasi disebut juga dengan penjualan titipan, pihak yang menyarankan barang (pemilik) disebut consignor (konsinyor) atau pengamat, sedang pihak yang menerima titipan barang tersebut disebut konsinyi, komisioner. Adapun pengertian penjualan menurut Hadori Yunus Harnanto adalah:“Konsinyasi merupakan suatu perjanjian dimana pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi.
  2. Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP)Harga pokok produksi (HPP) merupakan biaya keseluruhan yang dibutuhkan untuk menjadikan suatu atau beberapa barang menjadi sebuah produk yang memiliki daya guna dan nilai jual yang tinggi.Terdapat banyak metode yang digunakan untuk menentukan HPP, namun yang paling terkenal adalah metode Full Costing dan Variable Costing. Berikut adalah perbandingan Metode Full Costing dengan Metode Variable Costing.

    Full Costing

    Yakni merupakan metode penentuan harga pokok produksi, yang membebankan seluruh biaya produksi baik yang berperilaku tetap maupun variabel kepada produk. Dikenal juga dengan  Absortion atau Conventional Costing.

    Perbedaan tersebut terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi tetap, dan akan mempunyai akibat pada :

    1.      Perhitungan harga pokok produksi dan

    2.      Penyajian laporan laba-rugi.

    Metode Full Costing

    Harga Pokok Produksi :

    Biaya bahan baku                                           Rp.  xxx.xxx

    Biaya tenaga kerja langsung                           Rp.  xxx.xxx

    Biaya overhead pabrik tetap                           Rp.  xxx.xxx

    Biaya overhead pabrik variabel                       Rp.  xxx.xxx

    Harga Pokok Produk                                       Rp.  xxx.xxx

    Dengan menggunakan Metode Full Costing,

    1.      Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya.

    2.      Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP yang sesungguh- nya  terjadi.

    Catatan :

    Pembebanan BOP lebih (overapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih besar dari BOP yang sesungguhnya terjadi.

    Pembebanan BOP kurang (underapplied factory overhead), terjadi jika jml BOP yang dibebankan lebih kecil dari BOP yang sesungguhnya terjadi.

    3.      Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual, maka pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau kurang tsb digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok yang masih dalam persediaan (baik produk dalam proses maupun produk jadi)

    4.      Metode ini akan menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya samapi saat produk yang bersangkutan dijual.

    Variable Costing :

    Merupakan suatu metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel saja. Dikenal juga dengan istilah : direct costing

    Harga Pokok Produksi :

    Biaya bahan baku                                              Rp.  xxx.xxx

    Biaya tenaga kerja langsung                              Rp.  xxx.xxx

    Biaya overhead pabrik variabel                          Rp.  xxx.xxx

    Harga Pokok Produk                                          Rp.  xxx.xxx

    Dengan menggunakan Metode Variable Costing,

    1.      Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.

    2.      Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.

    3.      Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama periode yang akan datang.

    Penyajian Laporan Laba Rugi

     

    ( Metode Full Costing )

    Hasil penjualan                                       Rp.     500.000

    Harga pokok penjualan                           Rp.     250.000 –

    Laba Bruto                                               Rp.     250.000

    Biaya administrasi dan umum                         Rp.       50.000 –

    Biaya pemasaran                                    Rp.       75.000 –

    Laba Bersih Usaha                                  Rp .    125.000

    Ket :

    Laporan Laba-rugi tsb menyajikan biaya-biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan umum.

     

    ( Metode Variable Costing )

    Hasil penjualan                                               Rp.  500.000

    Dikurangi Biaya-biaya Variabel :

    Biaya produksi variabel           Rp.  150.000

    Biaya pemasaran variabel      Rp.    50.000

    Biaya adm. & umum variabel Rp.    30.000

    Rp.  230.000

    Laba kontribusi                                                Rp.  270.000

    Dikurangi Biaya Tetap

    Biaya produksi tetap                       Rp.    100.000

    Biaya pemasaran tetap                   Rp.      25.000

    Biaya Adm & umum tetap               Rp.      20.000

    Rp.  145.000

    Laba Bersih Usaha                                          Rp   125.000

     

     

     

     

    Manfaat Informasi yang Dihasilkan oleh Metode Variable Costing

    Laporan keuangan yang disusun berdasar metode Variable Costing bermanfaat bagi manajemen untuk :

    (1)        Perencanaan laba jangka pendek

    Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan, sehingga hanya biaya variabel yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen

    Laporan laba-rugi variable costing menyajikan dua ukuran penting : laba kontribusi dan operating laverage.

    Hasil Penjualan           :  Rp. 1000

    Biaya Variabel             :  Rp.   600

    Laba Kontribusi           :  Rp.   400

    Biaya Tetap                         :  Rp.   300

    Laba Bersih                         :  Rp.   100

    Ratio Laba Kontribusi :  Laba kontribusi = 400/1000

    Hsl Penjualan

    Operating Laverage    :  Laba kontribusi = 400/100

    Laba bersih

    Misal :

    Dalam rencana anggaran diputuskan untuk menaikkan harga jual 12%. Maka dampak dari kenaikan ini terhadap laba jangka pendek dapat ditentukan :

    12% x 40% =  4,8%

    Laporan laba rugi yang memisahkan biaya tetap dan variabel, memungkinkan juga manajemen melakukan analisis hubungan biaya, volume dan laba.

    (2)        Pengendalian biaya

    Biaya tetap dalam variable costing dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yakni : discretionary fixed cost dan committed fixed cost.

    Discretionary fixed cost merupakan biaya yang berperila- ku tetap karena kebijakan manajemen. Dalam jangka pendek biaya ini dapat dikendalikan oleh manajemen.

    Sedangkan committed fixed cost merupakan biaya yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen dan organisasis pokok. Dalam jangka pendek biaya tersebut tidak dapat dikendalikan oleh manajemen.

    (3)        Pembuatan keputusan.

    Pihak manajemen dengan menggunakan metode variable costing dapat menentukan pengambilan keputusan misal dalam hal pesanan khusus.

    1.      Perbandingan metode Full Costing dengan Variable Costing

    2.      Perhitungan Rugi/Laba menurut metode Variable Costing

    3.      Pengumpulan biaya dalam metode Variable Costing

    4.      Manfaat Informasi yang dihasilkan oleh metode Variable Costing

    5.      Kelemahan metode Variable Costing

    6.      Variable Costing dengan metode Harga Pokok Pesanan

    Variable Costing dengan metode Harga Pokok Proses

    Sumber: http://blog.umy.ac.id/rodes2008/penentuan-harga-pokok-produksi-metode-variable-costing-full-costing/